Listrik Prabayar Lebih Mahal ?
Prokontra di masyarakat tentang tarif listrik prabayar yang lebih mahal atau sebaliknya lebih murah masih menjadi opini. Banyak perkiraan serta fakta lapangan yang saling bertolak belakang. Sebagaimana member kami pun merasa ada yang di untungkan karena dirasakan lebih hemat 10-20% perbulan dibandingkan saat menggunakan listrik pascabayar. Akan tetapi juga ada yang memberi testimoni bahwa listrik prabayar lebih mahal, bahkan ada yang yang memberi testimoni bisa mencapai 2 kali lipat lebih mahal. Pertanyaannya mengapa bisa seperti itu ? padahal tarifnya listrik prabayar adalah standart.
Setidaknya ada sebuah parameter yang sama yang di ukur adalah berapa besarnya uang yang dikeluarkan untuk membeli token listrik dalam 1 bulan dibanding saat menggunakan pascabayar. Padahal banyak faktor lain yang mempengaruhi kenaikan atau bahkan penurunan listrik prabayar. Kami pernah memberi agrumentasi berdasarkan perhitungan listrik prabayar lebih murah ataukah lebih mahal pada artikel sebelumnya. Klik disini. Pada artikel tersebut bisa dilihat bahwa betul listrik prabayar tidak selalu lebih murah dibandingkan pascabayar. Akan tetapi pada umumnya listrik prabayar akan lebih murah. Hal ini dikarenakan listrik pascabayar dikenakan biaya pemakaian minimum atau yang disebut abonemen. Dalam beberapa perbincangan kami dengan member kami yang merasa lebih mahal maka yang paling sering terjadi dikarenakan beberapa hal dibawah.
- Melakukan penambahan daya. Migrasi listrik regular menjadi listrik pintar (prabayar) dilakukan bersamaan dengan menambah daya rumah atau gedung yang ditempati. Jika hal ini dilakukan maka sangat wajar jika merasa tarif listrik prabayar lebih mahal. Dikarenakan tarif dasar listriknya juga sudah berubah. Yang awalnya misal pada daya 450 VA pada blok 3 yaitu sebesar Rp 495/kWh kemudian menambah daya menjadi 1300 VA yang memiliki harga Rp.790/kWh. Ini adalah faktor yang paling dominan yang paling mempengaruhi mahal atau tidaknya listrik pintar prabayar dibandingkan pascabayar.
- Tidak menghitung jumlah kwh tetapi rupiah. Jika pada no 1 diatas melakukan penambahan daya, maka pada no 2 ini tidak melakukan penambahan daya. Akan tetapi lupa bahwa yang di ukur seharusnya adalah jumlah kWh yang dihabiskan dalam periode tertentu. Cara yang paling mudah adalah menghitung pemakaian listrik pintar pada periode tertentu (misal 1 bulan) dengan cara membeli nominal pulsa yang besar kemudian mencatat sisa pulsa di awal bulan dan dikurangi di akhir bulan. Lalu dari jumlah kWh tersebut lalu di bandingkan dengan tagihan saat masih menggunakan listrik reguler. Sekali lagi yang dibandingkan adalah kWh. Jika jumlah kWh saat listrik pintar yang dipasang jauh lebih banyak dibandingkan saat menggunakan listrik reguler, tentu hasilnya lebih mahal. Akan tetapi jika ternyata lebih sedikit atau sama, maka bisa dibandingkan bahwa listrik prabayar relatif lebih hemat.
- Melakukan pembelian token listrik dengan nominal kecil dan berulang. Rekan perlu tahu bahwa setiap membeli token listrik maka akan mendapat pengurangan biaya admin dan pajak penerangan jalan umum. Jika penggunaan listrik rekan termasuk besar, maka jangan membeli dengan nominal kecil dan berulang ulang. Dengan kata lain maka akan mendapat potongan biaya admin yang berulang pula. Biaya admin tersebutlah yang mengurangi jumlah kWh yang diterima. Akan Lebih baik jika membeli dengan nominal besar meski hanya 1 kali dalam 1 bulan.
Setidaknya 3 tiga faktor diatas lah yang membuat listrik pintar terasa lebih mahal. Meskipun demikian bukan berarti listrik prabayar tanpa kelemahan. Akan kami bahas pada artikel selanjutnya tentang kelemahan listrik prabayar atau listrik pintar.
Rekan rekan memiliki pengalaman yang lain tentang listrik prabayar ? yuk koment dibawah yuk, agar bisa saling berbagi.
kata populer:
- listrik pulsa lebih mahal
- Kelemahan listrik prabayar
- kelemahan listrik pulsa
- lebih rugi prabayar atau pascabayar
- ac 1 pk untuk listrik 1300 watt







